Fenomena dipermalukan secara luas. Adanya tindakan cyber bullying ini

Fenomena Cyberbullying merupakan
salah satu bentuk dari bullying secara verbal atau non verbal dengan menggunakan
media elektronik ataupun media sosial. Hal ini dilakukan dengan cara
mengirimkan pesan yang berisikan pesan kebencian ataupun dengan cara
menyebarkan isu-isu mengenai seseorang yang disebarluaskan melalui media sosial
yang dimana korban dari cyberbullying tersebut dipermalukan secara luas. Adanya
tindakan cyber bullying ini memiliki dampak yang cukup signifikan. Mulai dari
dapat mematikan rasa kepercayaan diri hingga korban menghilangkan nyawa mereka
dengan melakukan bunuh diri yang dianggap oleh mereka dapat menghilangkan rasa
sakit akibat adanya cyber bullying. Cyber Bullying sendiri menjadi fenomena
yang sering dibicarakan karena terkait adanya kecanggihan teknologi di era
globalisasi ini sehingga membuat cyber bullying menjadi suatu topik yang cukup
sering diperbincangkan pada saat ini.

Keywords:
Cyber bullying, globalisasi, budaya,
globalisasi budaya

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 

 

 

 

 

 

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

      Pada era modern ini, globalisasi menjadi
salah satu hal yang turut ikut andil dalam perkembangan media massa pada saat
ini. Definisi dari globalisasi sendiri menurut Joseph Stiglitz ialah ”
Integrasi yang lebih erat antara negara-negara dengan masyarakat dunia, yang
disebabkan oleh pengurangan biaya transportasi dan komunikasi, serta
meruntuhkan penghalang-penghalang yang artifisial terhadap arus barang, jasa,
modal, pengetahuan, dan orang-orang lintas batas”1.

Adanya
globalisasi pasti memiliki dampak yang bisa kita katakan besar. Salah satunya
merupakan media. Dengan adanya globalisasi pula, media massa mudah menerobos
batas-batas nasional dan juga budaya2.
Media pada saat ini mengalami perkembangan yang cukup cepat dan meningkat.
Adanya media, menjadikan masyarakat dunia dengan mudah mengakses informasi yang
mereka butuhkan, karena media pada era saat ini telah melewati batas-batas
negara. Selain itu  media sendiri juga
dapat merujuk kepada wadah penyampain informasi. Baik melalui media cetak,
media massa, media film, media pendidikan, media elektronik, dan lain sebagainya.

 Media merupakan salah satu alat vital bagi
masyarakat dunia dalam mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Tidak hanya
informasi yang berasal dari dalam negeri, namun juga informasi yang berasal
dari negara-negara lain. Adanya globalisasi menjadikan media mengalami
perkembangan menjadi media global. Media Global sendiri merupakan media yang
dapat dimaknai sebagai teknologi atau media global. Dimana internet memiliki
peranan yang penting dalam hal ini. Internet sendiri dikenal sebagai desa
global dimana kita dapat menjangkau berbagai negara meskipun terhalang dengan
adanya jarak geografis. Dalam hal ini menjadi global berarti semakin menyatu
secara internasional dan terintegrasi melalui pandangan dunia.3

Dengan adanya media
global, dapat memudahkan masyarakat dalam mendapatkan informasi dari berbagai
negara meskipun ada jarak geografis. Selain itu, media global juga memiliki
peranan yang cukup signifikan dan juga memiliki peranan yang kuat dalam
berbagai bidang. Baik itu melalui periklanan, informasi mengenai pemasaran,
ataupun hal lainnya. Dalam hal inilah media global memiliki peranan yang
penting di dalam masyarakat.

Namun adanya media
sosial tidak selalu membawa kebaikan. Media sosial sendiri bisa menjadi alat
bagi beberapa orang untuk melakukan kejahatan di media sosial. Salah satunya
ialah melakukan Cyber Bullying. Cyber Bullying sendiri merupakan aksi bullying yang dilakukan baik secara verbal maupun non-verbal
terhadap korban. Dalam hal ini, media yang digunakan merupakan media elektronik
dan media sosial4.
Hal ini dapat dilakukan dengan cara menyebarkan isu maupun hal-hal yang berupa
suatu privasi seseorang melalui media sosial hingga dapat dilihat oleh semua
orang.

Perilaku cyber bullying sendiri dapat dilakukan
oleh berbagai pihak, baik pihak yang dekat dengan kita maupun yang tidak
memiliki hubungan sama sekali. Cyber
bullying sendiri kerap kali dibicarakan terkait mengenai perkembangan media
global. Banyak yang berpendapat bahwa munculnya tindakan cyber bullying merupakan akibat dari kemajuan teknologi yang
berkembang secara cepat.

Cyber
bullying sendiri dianggap valid apabila yang melakukan
merupakan remaja yang berada di usia remaja. Apabila yang terlibat berumur  lebih dari umur 18 tahun maka apa yang
dilakukannya disebut cyber crime5.
Maka pelaku cyber bullying biasanya berusia remaja yang sering menggunakan
teknologi yang berkembang secara pesat.

Oleh sebab itu, cyber bullying menjadi suatu tantangan
yang ada dalam era globalisasi ini. Karena globalisasi yang semakin berkembang
secara cepat dan pesat, menjadikan fenomena cyber
bullying itu sendiri berkembang hingga menjadi suatu fenomena yang dianggap
penting oleh seluruh negara. Selain itu, cyber
bullying yang dimana merupakan hasil dari adanya globalisasi, menjadikan
fenomena cyber bullying bisa mengubah
nilai-nilai budaya seperti adat istiadat, sopan santun, dan juga mengenai
etika.

Dalam hal ini, cyber bullying dapat mengubah kebudayaan
yang sudah diterapkan. Seperti yang telah dijelaskan, akan banyak orang-orang
yang tidak dapat mengerti bagaimana cara menghormati seseorang. Selain itu, cyber bullying juga dapat berakibat
buruk bagi korban yang menerimanya, baik secara fisik maupun secara mental
akibat adanya perilaku tersebut. Dalam hal ini perilaku cyber bullying harus diberhentikan agar tidak menjadi suatu
kebudayaan atau menjadi suatu aktivitas yang dianggap lumrah atau biasa di
dalam masyarakat. Sebab, hal tersebut dapat menganggu aktivitas yang
berdasarkan adat-istiadat dan juga menganggu sistem sosial yang sudah ada.

Selain menimbulkan
akibat buruk secara fisik dan mental, korban cyber bullying juga mengalami trauma mendalam sehingga tidak berani
membuka media teknologi komunikasi seperti akun media sosialnya karena tidak
tahan untuk melihat hinaan verbal yang diterimanya, dan merasa terintimidasi di
lingkungan sosialnya. Selain itu korban juga bisa saja mengurung dirinya
sendiri dan merasa tidak ingin berteman dengan siapapun karena takut untuk
bergaul.

Untuk itu, dalam
makalah ini ditekankan bahwa sangat penting menggunakan teknologi komunikasi
seperti media internet atau media sosial dengan sebaik-baiknya dengan tidak
menyalahgunakan media sosial untuk mengintimidasi orang lain secara verbal
seperti cyber bullying.

 

Tujuan

Tujuan dari pembuatan
makalah ini ialah :

1.      Untuk
mengetahui bagaimana fenomena cyber
bullying dapat mempengaruhi globalisasi budaya

2.      Mengetahui
dampak yang dihasilkan dari adanya fenomena cyber
bullying terhadap globalisasi budaya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

2.1  Fenomena cyber bullying

Fenomena cyber bullying sendiri menjadi fenomena
yang sering kali diperbincangkan oleh masyarakat dunia. Fenomena cyber bullying menjadi perbincangan
dikarenakan banyaknya kasus cyber
bullying dengan melibatkan anak-anak remaja dibawah usia 18 tahun yang
dimana hingga korbannya memilih untuk menghilangkan nyawa mereka. Karena
mendapatkan stress dan juga tidak kuat lagi akibat dari adanya cyber bullying. Kasus cyber bullying sendiri mendapat highlight
karena banyaknya korban akibat hal tersebut.

 Di Indonesia sendiri, kasus cyber bullying menjadi suatu isu yang
cukup sering diperbincangkan. Di Indonesia berdasarkan dari survey yang
dilakukan oleh media Kompas, pengguna internet sebanyak 63 juta orang atau
24,23% dari jumlah populasi masyarakat Indonesia6. Selain
itu berdasarkan survey IPSOS24 di sekitar 24 negara termasuk negara Indonesia, terdapat
satu dari sepuluh atau sama dengan sekitar 12% orangtua melapor mengenai anak
mereka yang mengalami fenomena cyber
bullying.

Indonesia salah satu
negara dengan pengguna media sosial terbanyak di dunia. Berdasarkan info dari
Telkom, salah satu provider di Indonesia, Sebanyak 43.6 juta orang menggunakan
facebook dan sebanyak 19.5 juta orang menggunakan Twitter7.  Selain itu juga berdasarkan survey yang
dilakukan oleh salah satu lembaga survey di Indonesia, pelaku cyber bullying di Indonesia sendiri
kebanyakan merupakan anak-anak berusia dibawah 18 tahun. Dan hal ini pun
dibuktikan oleh sebanyak 50% orang dewasa yang mengaku mereka mengenal
anak-anak yang dibawah usia 18 tahun tersebut yang menjadi pelaku dari cyber bullying.

Di Indonesia kasus cyber bullying sendiri tidak terlalu
dianggap serius. Banyak yang berpikir bahwa kasus cyber bullying merupakan kasus yang terlalu dibesar-besarkan dan
tidak semua orang merasa melakukan hal tersebut. Kesadaran akan hal tersebut
pun sangatlah kecil, sehingga banyaknya korban yang berjatuhan akibat adanya
kasus cyber bullying tersebut.
Pemerintah sendiri belum memiliki semacam Undang-undang mengenai bagaimana
kasus cyber bullying itu sendiri di
atur. Namun Indonesia memiliki Undang-Undang seperti UU ITE. Hal itu tidak
dimasukkan kedalam UU ITE karena sudah ada di pasal 29 UU ITE8.

Kasus cyber bullying di Indonesia sendiri
mengalami peningkatan tiap tahunnya. Hal ini dikarenakan perkembangan teknologi
yang dimiliki oleh anak-anak yang berusia di bawah 18 tahun. Selain itu juga,
perilaku cyber bullying yang terdapat
berbagai jenis seperti adanya cyber
stalking, dan lain-lain.

Namun pada akhir-akhir
ini, makin banyak yang melaporkan mengenai kasus bullying itu sendiri. Baik dari segi cyber bullying maupun bullying
itu sendiri. Komisi Perlindungan Anak Indonesia sendiri misalnya, mendapatkan
pengaduan mengenai bullying sebanyak
26 ribu laporan dari tahun 2011-20179.
Selain itu juga Kementerian Sosial yang menerima laporan sebanyak 117 kasus bully per Juni 201710.
Meskipun banyak yang melaporkan permasalahan bully& cyber bullying, tidak menutup kemungkinan masih banyak
nya kasus-kasus mengenai hal tersebut yang belum dilaporkan oleh orang-orang
yang bersangkutan.

2.2  Dampak Terhadap Budaya

Adanya fenomena cyber bullying yang merupakan dari
adanya perkembangan globalisasi, akan mempengaruhi suatu kebudayaan di dalam
masyarakat itu sendiri. Bukan merupakan kebudayaan seperti tari-tarian ataupun
kebudayaan yang bersifat kesenian, melainkan kebudayaan yang lebih seperti
nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat. Perilaku cyber bullying  sendiri dapat mengubah nilai-nilai yang
terdapat di dalam masyarakat.

Adanya fenomena
tersebut dapat mengganggu aktivitas serta kepribadian seseorang yang menjadi
target perilaku cyber bullying. Dalam
hal ini, aktivitas yang merupakan suatu kebudayaan dikarenakan aktivitas
merupakan suatu tindakan yang berpola yang dilakukan oleh manusia. Apabila
aktivitas terganggu, maka kebudayaan seseorang atau sekelompok orang dapat
terganggu. Dalam hal ini kebudayaan seseorang atau sekelompok orang dapatlah
bergeser dikarenakan adanya globalisasi yang berkembang secara cepat dan pesat
hingga dapat menggeser nilai-nilai kebudayaan seseorang maupun sekelompok orang.

Fenomena cyber bullying memang seharusnya patut
diwaspadai karena kejahatan ini berbeda dari kejahatan bullying lainnya. Cyber
bullying telah memakan banyak korban, salah satu contohnya adalah seorang
remaja bernama Amanda Todd yang memilih untuk menghilangkan nyawanya
dikarenakan beredarnya foto yng bersifat pribadi miliknya oleh orang yang tidak
bertanggung jawab11.
Sementara itu korban cyber bullying juga
cenderung besar terlibat dalam perilaku kekerasan dan menjadi agresif ketika ia
berusia dewasa nantinya.

Cyber
bullying merupakan kekerasan yang secara simbolik yang dapat
menyebabkan terganggunya psikis seseorang dan membuat seseorang tersebut
menjadi takut. Cyber bullying ini
disebabkan oleh meningkatnya intensitas individu dalam mengakses internet lalu
menjadi sebuah kebiasaan dan dampaknya adalah adanya rasa malas yang muncul
dalam diri seorang remaja yang mengakses internet tersebut.

Dampak cyber bullying terhadap suatu budaya
adalah bergesernya nilai-nilai norma yang telah ada karena cyber bullying secara tak langsung menyebabkan terampasnya hak-hak
individu untuk mengekspresikan dirinya secara bebas, terutama dalam
perkembangan teknologi komunikasi seperti media sosial dan membuat suatu
individu merasa kehidupannya terintimidasi oleh lingkungan sekitarnya, serta
akibat perkembangan teknologi yang semakin canggih tersebut, intensitas dalam
penggunaan internet juga meningkat dan seolah-olah memaklumi perilaku cyber bullying sehingga aktivitas
tersebut menjadi budaya dalam masyarakat di suatu negara.

Media sosial saat ini
menjadi sarana berkomunikasi sampai media untuk mengekspresikan diri kita,
namun banyak yang menyalahgunakan untuk menjadikan media sosial sebagai senjata
mengeluarkan hinaan dan makian kepada pengguna media sosial lainnya dan menyebabkan
gangguan psikis terhadap pengguna media sosial lainnya. Untuk itu gunakan media
sosial sebagai media untuk berbagi dan mengekspresikan diri secara positif dan
saling menghargai satu sama lain. Media sosial dapat diakses oleh semua orang,
jadi kita sebagai pengguna media sosial juga harus memanfaatkan media sosial
dengan baik dan berhati-hati dalam mengutarakan ucapan di media sosial.

Penggunaan media sosial
secara baik juga menjadi salah satu awal tindakan preventif mengenai cyber bullying. Dalam hal ini peranan
orang tua dan peranan orang dewasa sekitar menjadi salah satu hal terpenting
dalam menangani kasus cyber bullying.
Anak-anak yang masih belum dikatakan dewasa ada baiknya diawasi dalam
penggunaan media sosial agar tidak terjadi banyak kasus cyber bullying yang melibatkan anak-anak dibawah umur.

KESIMPULAN

   Kasus cyber bullying menjadi kasus yang
diperbincangkan oleh dunia dikarenakan hal ini hampir melanda semua warga
dunia. Hal ini terjadi karena perkembangan globalisasi yang sangat cepat.
Adanya cyber bullying dapat menggeser
nilai-nilai kebudayaan seperti adat-istiadat dan lain sebagainya. Dalam hal ini
perlu langkah preventif dalam menanggulangi permasalahan cyber bullying ini. Seperti adanya pengawasan penggunaan media
sosial oleh orang tua terhadap anak-anaknya yang berusia di bawah usia dewasa.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR
PUSTAKA

Joseph
Stiglitz. 2002. Globalization and its
Discontents,

 

James
Lull. 1997. Media, Communication,
Culture: A Global Approach. Brasil Blackwell Publisher, England, hal 136.

 

UK Essays, “How
Global Is The Global Media?”, diakses dari https://www.ukessays.com/essays/media/how-global-is-the-global-media-media-essay.php
pada tanggal 12 Desember 2017

BEM
FK UNUD. “Kajian Cyberbullying di
Indonesia”. Diakses melalui http://bemfkunud.com/2016/09/23/kajian-cyberbullying-di-indonesia/ pada tanggal 12
Desember 2017.

 

UIN Surabaya. digilib.uinsby.ac.id/5650/4/Bab%201.pdf. diakses pada tanggal 13 December 2017

Yansa Alif
Mulaya. “Tingginya Angka Rasio Peningkatan Cyberbullying
di Indonesia”.
Diakses dari http://psikologi.uin-malang.ac.id/wp-content/uploads/2017/02/Tingginya-Angka-Rasio-Peningkatan-Cyberbullying-di-Indonesia.pdf pada
tanggal 13 Desember 2017.

 

No
Bullying.Com. “Bullying In Indonesia”.
Diakses dari https://nobullying.com/bullying-in-indonesia/ pada tanggal 14
Desember 2017

 

CNN
Indonesia. 2016. “Merumuskan Pidana Cyber
Bullying dalam Revisi UU ITE Sulit”. Diakses dari https://www.cnnindonesia.com/nasional/20160925020901-12-160914/merumuskan-pidana-cyber-bullying-dalam-revisi-uu-ite-sulit
Pada Tanggal 14 Desember 2017

KPAI.
“KPAI Terima Aduan 26 Ribu Kasus Bully
Selama 2011-2017”. Diakses dari http://www.kpai.go.id/berita/kpai-terima-aduan-26-ribu-kasus-bully-selama-2011-2017/ pada tanggal 14
December 2017.

 

CNN
Indonesia. “Semakin Banyak Yang
Melaporkan Kasus ‘Bullying'”. Diakses dari https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20170722163858-277-229641/semakin-banyak-yang-melaporkan-kasus-bullying/ pada tanggal 14
December 2017.

 

NoBullying.Com.
” The Unforgottable Amanda Todd Story”.
Diakses dari https://nobullying.com/amanda-todd-story/ pada
tanggal 14 Desemb

1
Joseph Stiglitz. 2002. Globalization and
its Discontents,

2
James Lull. 1997. Media, Communication,
Culture: A Global Approach. Brasil Blackwell Publisher, England, hal 136.

3 UK Essays, “How Global Is The Global Media?”, diakses
dari https://www.ukessays.com/essays/media/how-global-is-the-global-media-media-essay.php pada tanggal 12
Desember 2017

4
BEM FK UNUD. “Kajian Cyberbullying di
Indonesia”. Diakses melalui http://bemfkunud.com/2016/09/23/kajian-cyberbullying-di-indonesia/
pada tanggal 12 Desember 2017.

5 UIN Surabaya.
digilib.uinsby.ac.id/5650/4/Bab%201.pdf.
diakses pada tanggal 13 December 2017

6
Yansa
Alif Mulaya. “Tingginya Angka Rasio Peningkatan Cyberbullying
di Indonesia”.
Diakses dari http://psikologi.uin-malang.ac.id/wp-content/uploads/2017/02/Tingginya-Angka-Rasio-Peningkatan-Cyberbullying-di-Indonesia.pdf pada tanggal 13 Desember 2017.

7 No
Bullying.Com. “Bullying In Indonesia”.
Diakses dari https://nobullying.com/bullying-in-indonesia/
pada tanggal 14 Desember 2017

8
CNN Indonesia. 2016. “Merumuskan Pidana
Cyber Bullying dalam Revisi UU ITE Sulit”. Diakses dari https://www.cnnindonesia.com/nasional/20160925020901-12-160914/merumuskan-pidana-cyber-bullying-dalam-revisi-uu-ite-sulit
Pada Tanggal 14 Desember 2017

9
KPAI. “KPAI Terima Aduan 26 Ribu Kasus
Bully Selama 2011-2017”. Diakses dari http://www.kpai.go.id/berita/kpai-terima-aduan-26-ribu-kasus-bully-selama-2011-2017/
pada tanggal 14 December 2017.

10
CNN Indonesia. “Semakin Banyak Yang
Melaporkan Kasus ‘Bullying'”. Diakses dari https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20170722163858-277-229641/semakin-banyak-yang-melaporkan-kasus-bullying/
pada tanggal 14 December 2017.

11
NoBullying.Com. ” The Unforgottable
Amanda Todd Story”. Diakses dari https://nobullying.com/amanda-todd-story/
pada tanggal 14 Desember 2017.